cool hit counter

Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sulawesi Barat - Persyarikatan Muhammadiyah

 Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sulawesi Barat
.: Home > Sejarah

Homepage

Sejarah Muhammadiyah di Tanah Mandar


H.M. Yunus Anis, kelak menjadi Ketua PP Muhammadiyah (1959-1962), saat itu sebagai Muballigh utusan Pimpinan Pusat Muhammadiyah (duduk, peci hitam, baju putih, bersarung) berfoto bersama anggota Groep (Ranting) Muhammadiyah Campalagian, Polewali Mandar, Sulawesi Barat, 26 Oktober 1929. (sumber foto: Ensiklopedi Muhammadiyah)



Muhammadiyah merupakan organisasi Islam terbesar di Nusantara, seperti kita ketahui bahwa Muhammadiyah pertama kali didirikan pada tahun 1912 di Kauman Yogyakarta oleh K.H Ahmad Dahlan kini telah ada di berbagai tempat di Nusantara. Organisasi Muhammadiyah ini berkembang dengan pesat bahkan dalam masa penjajah oleh Hindia Belanda Muhammadiyah dapat melakukan aktivitas dakwah.

Tahun 1928 merupakan awal mula ada Muhammadiyah di Mandar. Muhammadiyah di Mandar di prakarsai oleh H. Zaini (saat itu sebagai ketua Muhammadiyah Cabang Rappang) dengan membentuk “Group Mandar”, kini disebut Ranting. Para tokoh utama adalah H. Haruna, H. Abd Rahim, H. Juhaeni, Abdullah Kanna Mina, Hamza, Abd. Malik, H. Hazwar dan Mudo.

Muhammadiyah di Mandar saat itu berpusat di Majene. Dalam perjalanannya Muhammadiyah bukan hanya sebagai organisasi Islam. Namun,  memiliki andil yang besar dalam memperjuangakan kemerdekaan di Tanah Mandar. Sesuai dengan bidang tugasnya, Muhammadiyah lebih menitikberatkan perjuangannya dalam bidang dakwah dan pendidikan. Karena saat itu disamping melakukan tabligh-tabligh tentang Islam menurut Muhammadiyah, didirikan pula Sekolah-Sekolah Muhammadiyah. Pada tahun 1929 berdiri tiga buah madrasah, masing-masing di Majene, Karama-babarura (Balanipa), dan Campalagian. Pada tahun 1934 didirikan Madrasah Tsanawiyah di Majene. Madrasah ini diresmikan lansung oleh Haji Abdul Malik Karim Amirullah yang merupakan ulama muda dari Sumatera Barat, yang kemudian lebih dikenal sebagai Buya Hamka.

Sekolah terakhir ini mengalami perkembangan pesat sampai masa awal pendudukan Jepang. Perkembangan itu terjadi berkat bantuan para pedagang dan dedikasi para tenaga pengajar berpengalaman yang didatangkan dari tanah Jawa dan Sumatera, seperti H. Kamaluddin, H. Darwis Amini dan Ahmad Chatib, yang mengajarkan agama, sedang R. Soedarmo, Masaji, dan Suaji yang mengajarkan pelajaran umum. Madrasah Tsanawiyah Majene sangat terkenal di Kawasan Indonesia Timur, ditandai dengan para siswanya yang tidak saja berasal dari wilayah Mandar atau Sulawesi Selatan, tetapi juga berasal dari Toli-Toli, Halmahera dan Bima.

Saat itu Buya Hamka tidak hanya datang untuk meresmikan Madrasah tersebut, namun juga menetap sebagai Utusan Muhammadiyah sebagai da'i konsul untuk mengajarkan keislaman di wilayah Indonesia Timur. Di Mandar Buya Hamka melakukan tabligh keagaman di berbagai tempat dan sempat pula menjadi Kepala Sekolah dan menjadi tenaga pengajar di Madrasah tersebut. Namun, Buya Hamka saat itu tidak dapat terlalu lama menetap di Mandar karena tugasnya sebagai da’i konsul Muhammadiyah di kawasan Indonesia Timur sehingga ia harus berpindah-pindah tempat di wilayah Indonesia Timur lainnya.

Sebelum meninggalkan Mandar Buya Hamka mengirim beberapa calon Siswa dari Tande, Majene ke Sumatra Barat untuk belajar di Madrasah Thawalib. Sebuah sekolah yang didirikan oleh organisasi Thawalib, salah satu organisasi pembaharuan Islam di Padang, Sumatera Barat. Salah satu calon siswa yang dikirim ke Padang adalah Ustadz Abd. Rahman Tana.
 

Muhammadiyah Group Pamboang lansung membuka Madrasah Ibtidaiyah. Para pelopornya antara lain ialah H. Djunaedi, Darwis, H. Binuamma, Abd. Djalil Kanna Manusia, H. Tulis, H. Djuraeba Kanna Morotani. Serentak dengan itu berdiri pula Aisyiyah (Muhammadiyah bagian putri) dan kepanduan Hizbul Wathan yang dipimpin oleh Dahlan Saonesi dan M. Amin Bien. Selain membuka Madrasah Ibtidaiyah (yang menjadi guru-gurunya antara lain Kiyai Abd. Djalil, yang kemudian menjabat kadhi Cenrana, Abd. Malik (Munu) dan Amin Bien), juga membuka kursus-kursus terutama pemberatasan buta huruf untuk wanita ‘Aisyiyah.

Pada tahun 1936 didirikan pula Diniyah School, sebuah sekolah setingkat SMP,  oleh Muhammadiyah Group Pamboang dibawah pimpinan Al Ustadz H. Darwis Zakaria (keluaran Al Azhar Mesir) yang sengaja didatangkan dari Sumatera Barat (Payakumbuh).

Adapun guru-guru agama antara lain ialah H. Bahrun Sultan (juga dari Sumatera Barat, Padang Panjang). Abd. Syukur Rahim, Arsyuddin, H.M Soenoesi MS, mereka berempat adalah tamatan/keluaran Kulliyatul Muballighin Muhammadiyah Padang Panjang, Sedangkan guru untuk pengetahuan umum adalah Yusuf Madjid dari Ujung Pandang, keluaran MULO.

Dhiniyah School hanya sempat menerima murid satu periode yaitu tahun 1941. Setelah itu Jepang memasuki wilayah Mandar (Pamboang) pada awal tahun 1942, sekolah tersebut ditutup/ tidak diluaskan berdiri lagi. Murid-murid Diniyah School pada masa itu antara lain ialah M. Idris Radha, M. Amir (ex Kapten ALRI), Djamaluddin Pangerang, H. Musytari Djunaedi yang kemudian melanjutkan belajar ke Mesir (Al Azhar), Abd Rifai (ex Pabicara Bonde), Nur Aini Achmad dan Husein Langa. Dua terakhir ini melanjutkan sekolahnya ke Muallimin (Kwekschool) Muhammadiyah Makassar sampai lulus pada tahun 1941. Dari Muallimin ini, pada waktu yang sama lulus pula Hamusta dan Abd. Halim A.E., keduanya dari berasal dari Madrasah Tsanawiyah Muhammadiyah Majene yang terkenal itu.

Periode Jepang

Dalam peristiwa Perang Dunia ke-2 dimana angkatan perang Belanda menyerah kepada angkatan perang Jepang, sehingga pada bulan Maret tahun 1942 Jepang resmi menguasai pemerintahan di Sulawesi Selatan. Pada masa itu kerajaan yang ada di Sulawesi Selatan menyambut baik kedatangan Jepang dan menyambut pasukan Jepang sebagai “Liberator”, sang pembebas yang mampu membebaskan bangsa Indoneasia dari belenggu pejajahan Belanda. Pandangan demikian terhadap Jepang semakin diyakini para pemimpin, berhubung dibiarkannya bendera merah putih berkibar diberbagai tempat pada bulan pertama kekuasaan Jepang.

Sebelum pasukan Jepang masuk ke Mandar, para pemuda dari Pamboang membentuk sebuah panitia, panitia tersebut dinamakan Copekan (dibaca Kopeka), “Kominte Persipan Kemerdekaan”. Panitia ini bermaksud untuk menemui pimpinan penguasa Jepang yang pertama tiba di Mandar untuk menyambut kedatangannya guna mengucapkan selamat datang karena dianggap sebagai pembebasan. Disamping itu, panitia tersebut juga bertujuan untuk menyampaikan keadaan rakyat yang menderita dalam berbagai bidang (ekonomi, politik, kesejahteraan, dan sebagainya) agar dapat diperbaiki oleh penguasa yang baru.

Copekan ini dipimpin oleh H. Zubaer Ahmad, Abd. Rahman Tongani, H. Haedar dengan para penasehat masing-masing dari Muhammadiyah dan PSII setempat. Ratusan pemuda dari Pamboang secara demonstratif berjalan kaki menuju Majene yang dipelopori oleh Kepanduan Hizbul Whatan dibawah pimpinan Nur Ainin Ahmad dan M. Dahlan Soenoesi.

Menurut laporan dari pimpinan dan penasehat panitia yang berhasil diterima beraudensi oleh penguasa Jepang, bahwa mereka berterima kasih atas penyambutan, dan menghargai serta berjanji akan memperbaiki penderitaan rakyat yang ditinggalkan oleh pemerintahan penjajah Belanda. Panitia tersebut kembali ke Pamboang dengan rasa gembira dan puas atas berhasilnya missi mereka.

Sekitar tiga bulan kemudian terjadi titik balik, karena pada bulan Juni 1942 semua pimpinan tersebut dan para penasehat dari unsur pergerakan ditangkapi dan digiring ke Majene. Mereka diperiksa satu- persatu mengenai pendirian politik masing-masing.


Ditulis oleh: Agung Hidayat, pengurus MPI PW Muhammadiyah Sulawesi Barat, Pegiat Rumah Baca Mentari Mandar Sulawesi Barat.


Berita

Agenda

Pengumuman

Link Website